Seorang jemaat meyerahkan selembar kertas berisi artikle dengan judul “Blaming game”. Saat makan pagi, begitu tulisnya, seorang anak tanpa sengaja menyenggol segelas susu hingga tumpah. Spontan, ayahnya menjadi marah. “Lihatlah, perbuatanmu! Di mana matamu? Sudah jelas ada gelas di meja. Kok tidak hati-hati?” sepanjang pagi, sang ayah mengomel sehingga suasana pagi itu menjadi tidak enak.
Keesokkan paginya, dimeja yang sama, keluarga itu juga sedang makan pagi. Kali ini sang ayah secara tidak sengaja menyenggol gelas susu sampai tumpah. Sedetik kemudian, semua mata menatap sang ayah, menunggu reaksinya. Tidak kehilangan akal, sang ayah berteriak, “Siapa yang ngawur meletakkan gelas susu di atas meja?”
Selain blaming game, yaitu kecenderungan untuk selalu menyalahkan orang lain, di dunia kekristenan juga sering terjadi apa yang disebut self-righteousness, yaitu merasa diri yang paling benar dan orang lain salah. Sikap semacam ini sudah menimbulkan banyak korban. Bukan saja korban perasaan tetapi juga korban jiwa.
Hal ini menimpa seorang astronom Italia bernama Galileo Galilei (1564-1642). Pada waktu itu, ia menyatakan teorinya bahwa bumi berputar di porosnya sekali sehari sambil mengelilingi matahari setahun sekali. Ia menyebut teorinya heliosentris, atau berpusat pada matahari. Namun, pada saat itu, gereja justru menganggap bahwa bumilah yang menjadi pusat dan matahari yang mengelilingi bumi. Karena pandangannya yang menurut gereja, nyeleneh inilah Galilei dihukum mati. Belakangan kita tahu bahwa pendapatnya benar dan pandangan gereja salah. Nasi telah menjadi bubur. Korban sudah jatuh.
Oleh karena itu, sikap merasa paling benar sendiri itu sangat berbahaya. Apalagi jika “kebenaran” yang dipegangnya ternyata rapuh dan tidak benar sama sekali. Orang dahulu menganggap bumi ini datar. Faktanya? Bumi bulat! Nabi Yesaya pun mengatakannya: “Dia yang bertakhta di atas bulatan bumi yang penduduknya seperti belalang; Dia yang membetangkan langit seperti kain dan memasangnya seperti kemah kediaman! ( Yes 40:22)
Disamping, blaming game dan self-righteousness, ada satu penyakit lagi yang sangat berbahaya, yaitu double standard! Apa itu standar ganda? Kecenderungan untuk mengukur orang lain dengan ukuran yang berbeda yang kita terapkan bagi diri kita sendiri. Contohnya dari kasus susu di atas. Jika si anak yang menumpahkan susu, si ayah marah sekali. Sebaliknya, jika sang ayah yang menumpahkannya, ia merasa tidak bersalah apa-apa.
Saya pun pernah melakukan hal serupa. Dalam perjalanan pulang kerumah, anak saya bersama temannya menyanyi dan membuat keributan di mobil. Saya meminta mereka untuk tenang. Suasana menjadi tenang. Tiba-tiba saya menyanyi. Anak saya langsung berkomentar, “Lha, papa sendiri nyanyi!”
Ucapan itu jujur saja menampar diri saya. Jika saya tidak ingin anak saya ribut, mengapa saya sendiri membuat bunyi2an yang menurutnya ribut juga. Apa yang firman Tuhan katakan? "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi" (Mat 7:12). Inilah Golden rule. "karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu" (Mat 7:2)

Mari kita berhenti melakukan blaming game, self-righteousness, dan double standard!

Jesus bLess us abundantLy ^^
Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

0 komentar:

Song